Bangkok Climate Change Talks 2009
[BANGKOK] Perhelatan dialog internasional bertajuk Bangkok Climate Change Talks 2009 dihadiri oleh representasi negara-negara yang tergabung dalam UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change). Tak terbatas pada perwakilan pemerintah dan ilmuwan, para aktivis lintas isu dan negara juga turut hadir dalam pertemuan global yang digelar mulai 28 September-9 Oktober 2009 di Markas Besar United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP), Rajdamnern Nok Avenue, Bangkok, Thailand."
Dalam perhelatan ini, akan dibahas draf naskah kesepakatan global dalam mengatasi dampak perubahan iklim sebelum COP (Conference of the Parties) 15 di Kopenhagen, Denmark, Desember mendatang," kata Abdul Halim, Koordinator ProgramKoalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), di sela-sela International Indigineous Peoples Forum on Climate Change Prepatory Meeting yang diselenggarakan oleh Asia Indigenous Peoples Pact (AIPP) di Bangkok, 26-27 September 2009.
Dikatakan, pada naskah negosiasi yang telah direvisi oleh Ad Hoc Working Group on Long Cooperative Action (AWG-LCA), setidaknya ditemukan sedikitnya 10 pasal yang membahas perubahan iklim dalam konteks kelautan, pesisir, pulau-pulau kecil, masyarakat nelayan, pesisir, dan adat. Demikian juga menyangkut bahan bakar kapal, konservasi, dan restorasi."Munculnya kesadaran memerkarakan persoalan perubahan iklim dalam konteks kelautan melalui UNFCCC patut disyukuri. Akan tetapi, banyak hal perlu dikritisi demi pemenuhan dan perlindungan hak-hak konstitusi nelayan tradisional dan masyarakat pesisir oleh komunitas global dalam menghadapi dampak buruk perubahan iklim," katanya.
Satu hal utama yang mesti diubah adalah keterbatasan pemahaman para delegasi yang menempatkan nelayan tradisional hanya semata sebagai korban, sekaligus luput memberikan apresiasi dan perlindungan atas berbagai inisiatif komunitas nelayan yang lestari, sekaligus minim karbon. "Sejak abad ke-5 Masehi, mereka telah mempraktikkan pola kearifan tradisional dalam mengelola sumber daya laut dan pesisir, serta mampu menjaga keberlanjutan ekosistem laut," jelasnyaAwal 2009 lalu, FAO menyebutkan dalam laporannya, 24.000 nelayan meninggal di laut.
Dalam laporan Panel Internasional untuk Perubahan Iklim ke-IV (IPCC, 2007), disebutkan, pertama, pemanasan global telah berdampak pada naiknya permukaan air laut, rata-rata 2,4 mm sampai dengan 3,8 mm per tahun (1993-2003).Kedua, wilayah pesisir amatlah rentan terhadap perubahan iklim, dengan risiko erosi dan tenggelamnya pulau-pulau kecil seiring kenaikan permukaan air laut. "Berkaca pada naskah AWG-LCA yang telah direvisi, tampak bahwa persoalan aktual menyangkut problem mendasar yang dihadapi nelayan tradisional dan masyarakat pesisir tak hendak diselesaikan dalam perundingan perubahan iklim, tak terkecuali dalam Bangkok Climate Change Talks 2009 ini. [S-26]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar